Satu kata untuk transportasi
Jakarta: macet!
Pesatnya laju pertumbuhan mobil, ketaktersediaan transportasi massal yang nyaman, memperlihatkan negara lamban hadir di sektor ini. Maka lahirlah solusi personal. Jumlah sepeda motor melonjak drastis. Makin macet.
Pesatnya laju pertumbuhan mobil, ketaktersediaan transportasi massal yang nyaman, memperlihatkan negara lamban hadir di sektor ini. Maka lahirlah solusi personal. Jumlah sepeda motor melonjak drastis. Makin macet.
Meski bukan solusi terbaik,
tapi keberadaan ojek terasa membantu. Postur ramping sepeda motor memungkinkan
moda transportasi ini menyelinap di antara kemacetan. Karena itu ojek, jasa
antar pakai sepeda motor, menjadi pilihan saat kepepet.
Ojek adalah peluang bisnis di
kota besar. Tak heran bila kemudian usaha yang semula dilakukan perorangan ini dilirik
pemilik modal, hingga lahirlah gojek, sebuah perusahaan penyedia jasa ojek yang
saat ini telah beroperasi di beberapa kota selain Jakarta.
Suatu kali, tiGGer ––tepatnya pemilik
tiGGer–– mengejar waktu mengejar janji. Setiba di bandara Halim Perdana Kusuma,
sore sudah jam lima. Gojek Jadi pilihan.
Pesan lewat aplikasi di smart-phone. Tarif murah. Jarak 23 kilometer, Bandara
Halim Perdana Kusuma – Pondok Cabe, hanya bayar Rp 10 ribu. Ya, sedang promo.
Saat ini, ia bisa dianggap solusi.
Itu saja. ###

No comments:
Post a Comment