Showing posts with label Pelesir Alam. Show all posts
Showing posts with label Pelesir Alam. Show all posts

Tuesday, July 14, 2015

Mendaki Gunung Doi Pha Ngaem

Rencana semula hanya mengunjungi seorang sahabat, Suwae di Ban Nong Tao. Ban atau Desa Nong Tao adalah perkampungan suku Karen, salah satu etnis minoritas yang hidup di wilayah Utara Thailand. Tanpa diduga, sejurus setelah bertemu Suwae, lelaki bernama lengkap Siwakorn Odochao ini menawarkan ide yang susah ditolak. Mendaki gunung Doi Pha Ngaem.

Puncak gunung tertinggi ke-16 se-Thailand ini berada di ketinggian 1.717 meter dml. Dicapai dengan pendakian santai selama kurang lebih 3 jam dari pintu pendakian yang berada di kawasan pertanian wilayah suku Hmong. Jalur menuju puncaknya merupakan pematang sempit diapit jurang. Di atas puncak ada kuil kecil di tengah keanggunan alam.

Hanya semalam di puncak Doi Pha Ngaem. Udara dingin diakrabi dengan api unggun dan anggur beras buatan suku Karen. Tak terlupakan. Kalau ada kesempatan naik gunung lagi, Pah[1]! # # #





[1] Pah, seruan Ayo dalam bahasa Karen.

Sunday, July 12, 2015

Adopsi Pohon di Hutan Merabu

“Selama masih ada hutan, kehidupan akan terus berputar,” begitulah yang diyakini masyarakat Dayak Lebbo. Karena itu hutan di Kampung Merabu, di dalam bentang ekosistem kars Sangkurilang-Mangkalihat masih lestari.

Hasil hutan berupa kayu hanya dimanfaatkan sekadar untuk bahan bangunan. Selebihnya mereka memanfaatkan hasil hutan non kayu seperti madu, rotan, dan gaharu. Upaya untuk menjaga kelestarian hutan seluas 12 ribu hektar ini dilakukan dengan menjaga peraturan adat, memperjuangkan penetapan status hutan desa, ekowisata, bahkan melibatkan masyarakat luas untuk terlibat mengadopsi pohon.

Masyarakat luar dapat mengadopsi sebuah pohon yang ia pilih sendiri di hutan Kampung Merabu. Biaya adopsi dikenakan Rp 500.000/pohon/tahun bagi warga negara Indonesia. Bagi warga negara asing, biaya adopsi sebesar tiga kali lipatnya.

Para pengadopsi tidak berarti memiliki pohon tersebut serta bisa menebangnya, melainkan menjadi wujud kepedulian dalam membantu masyarakat menjaga kelestarian pohon tersebut. Semakin banyak pohon yang diadopsi, maka semakin besar perlindungan bagi kelestariannya.###

Sunday, July 5, 2015

Pohon Sialang, Rumah Lebah Madu Hutan

Sialang bukanlah nama spesies tumbuhan. Pohon sialang merupakan sebutan bagi jenis-jenis pohon besar yang disukai lebah hutan (Apis dorsata ) bersarang. Jenis pohon antara lain adalah spesies ara, kedundung,  dan benuang. Biasanya pohon-pohon yang dapat tumbuh tinggi hingga 50 meter dengan diameter batang dapat mencapai 2 meter. 

Umumnya pohon-pohon sialang berdaun kecil. Dengan ciri fisik itu, pohon sialang tak gampang ditumbangkan angin. Karena itu lebah senang bersarang. Satu dahan bisa digantungi 20 sarang lebah. Karenanya pada satu pokok pohon sialang, bisa mencapai seratus sarang lebah penghasil madu bersarang.

Bagi masyarakat Sumatera, pohon sialang adalah pohon rezeki. Ada sialang berarti akan ada sarang lebah yang berarti akan tersedia madu. Hasil hutan bukan kayu (non-timber forest product) yang bernilai ekonomis. Oleh karena itu, jika diamati, pada setiap pohon sialang diberi tangga tali rotan.

Dalam pengetahuan masyarakat tradisional (adat) Sumatera, pohon Sialang beserta vegetasi hutan tempatnya berada merupakan kesatuan yang tak dapat terganggu atau dirusak oleh siapa saja. Adat telah memiliki peraturan tidak tertulis yang mengatur sanksi dan denda. Sayang, kearifan ini perlahan-lahan menghilang karena kepentingan lain.


Ketika berkunjung ke pedalaman Jambi, tiGGer menemukan beberapa pohon sialang. Tanpa sarang lebah. Masih bertahan di areal hutan milik masyarakat yang sebelumnya sempat dibabat oleh sebuah perusahaan pulp dan kertas di Jambi. ###

Saturday, July 4, 2015

Lukisan Pra-Sejarah di Gua Beloyot

























Perancis punya lukisan Lascaux. Lukisan pra-sejarah di dinding gua Lascaux di Dordogne. Di Indonesia, lukisan pra-sejarah semacam ini ada di beberapa tempat. Lukisan di Gua Maros, dipercaya sebagai karya seni pra-sejarah tertua di dunia. Dibuat sekitar 40.000 tahun silam. Di Pulau Kalimantan, lukisan sejenis salah satunya terdapat di Gua Beloyot, Kampung Merabu, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.