Kalau ku mati, dia mati iseng sendiri.
Mampus kau
dikoyak-koyak sepi.
[Chairil Anwar]
Dua kalimat di atas merupakan penggalan
bait terakhir dua puisi penyair besar Indonesia, Chairil Anwar. “Cintaku Jauh
di Pulau” dan “Sia-sia”. Bait-bait puisi yang otomatis teringat setiap kali tiGGer
menyinggahi Chairil Anwar di Kota Malang.
Sastrawan besar Indonesia ini
masih bisa dijumpai di taman kecil berbentuk segitiga pada percabangan jalan
Kayutangan. Terabadikan dalam rupa patung dada atau patung torso. Berdiri
membelakangi gereja Katolik Hati Kudus Yesus.
Chairil adalah milik
Indonesia. Datang dari keluarga Minang tulen, lahir di kota Medan, hembuskan napas
terakhir dan dikebumikan di Jakarta, tapi diabadikan dalam bentuk pertama kali
justru di Kota Malang.
Mungkin banyak orang
bertanya-tanya kenapa ada patung Chairil Anwar di kota Malang. Apa ada hubungan
khusus antara Chairil Anwar dan Malang? Sebagai catatan, diketahui ada dua monumen
Chairil Anwar di Indonesia. Di Kota Malang dan Jakarta. Di tanah kelahiran sang
penyair ini, Medan, tidak ada.