Showing posts with label Yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label Yogyakarta. Show all posts

Sunday, July 26, 2015

Secangkir Kopi Sepenembakan Meriam

Letaknya tersembunyi. Hanya sepenembakan meriam kuno dari Keraton Yogyakarta. Cocok untuk yang ingin menikmati secangkir kopi dengan suasana tenang.

Persinggahan tiGGer ke kedai kopi ini pun tanpa sengaja. Teman seperjalanan tiGGer sedang mencari tempat untuk mengerjakan satu tulisan yang harus dikirim hari itu juga. Pilihannya jatuh pada kedai kopi. Hanya beberapa jam sebelum kereta Yogya – Blitar datang menjemput.

Beberapa saran yang dimintakan ke beberapa kerabat melalui pesan ponsel tampaknya tak cocok.

Thursday, July 16, 2015

Welcome to Malioboro (Tanpa) Country!

Bukan Marlboro. Tapi Malioboro. Nama sebuah jalan yang hanya berpanjang sekitar setengah kilometer. Inilah ruas jalan yang menjadi pusat kawasan wisata terbesar di Yogyakarta.

Trotoarnya dipenuhi dengan pertokoan dan warung kecil yang menyediakan bermacam barang dagangan. Utamanya oleh-oleh khas kota Yogyakarta atau biasa disebut Jogja. Mulai dari cemilan hingga karya kerajinan. Pada malam hari, tepiannya dipenuhi dengan tempat makan dengan konsep lesehan.

Jalan pendek ini menjadi perwujudan konsep tata kota Jawa Kuno. Menjadi bagian dari sumbu imajiner Utara – Selatan yang menghubungkan Laut Selatan dan Gunung Merapi dengan keraton berada di tengah-tengah.

Asal mula nama jalan ini

Tuesday, July 14, 2015

ATM Petani

Petani. Hidupnya tidak kaya-kaya amat. Sederhana tapi berkecukupan dan menikmati banyak hal yang amat fundamental. Aktifitas yang berkualitas, pangan dari tangan sendiri, hanyalah contoh kecil.

Terkait kekayaan maupun ketidak-kayaan, petani di Indonesia menerapkan pengelolaan pendapatan dengan cara amat sederhana. Misal, menandur padi sebagai tanaman sumber pangan (food crop) bagi keluarga. Dilanjutkan dengan tanaman buah dan sayur sebagai sumber pendapatan (cash crop), terakhir tanaman atau komoditas tabungan (investement crops) seperti pohon penghasil kayu dan ternak.

Monday, July 13, 2015

Daulat Pangan di Gunung Kidul


Nama Gunungkidul mungkin identik dengan kawasan pegunungan yang kering kerontang. Meski terkenal sebagai kawasan kering, Kabupaten Gunungkidul merupakan lumbung pangan utama bagi Propinsi Yogyakarta.

Dalam suasana Ramadhan 1436 H (2015), tiGGer sempat bertandang ke Desa Pundungsari, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul. Sekitar 2 jam dengan sepeda motor dari Bandaa Adi Sucipto Yogyakarta. Di desa ini ada sebuah organisasi tani bernama Paguyuban Petani Penggarap Tanah Oro-oro (PPTO).

Para petani di sini menanam padi secara organis dengan metode system of rice intensification (SRI). Metode ini tidak membutuhkan banyak air. Cocok dengan alam Gunungkidul yang kering. Bukan cuma hemat air, metode SRI juga hemat bibit. Lebih dari itu, hasil yang didapat bisa terdongkrak dua kali lipat.


Dengan begitu, meski luas lahan sawah milik anggota PPTO relatif sempit (berkisar seperempat hektar per keluarga) hasilnya cukup untuk menopang kebutuhan pangan masing-masing keluarga. Bahkan sebagian beras organis dari petani di sini juga bisa dikirim ke para pelanggan di Yogyakarta dan sekitarnya. ###